Kisahku
Visi
"Kebersamaan Dan Keharmonisan dalam Membangun Desa Wringinanom Yang Lebih Maju, Amanah dan Religius"
Misi
- Bersama masyarakat memperkuat kelembagaan desa yang ada sehingga dapat melayani masyarakat secara optimal;
- Bersama masyarakat dan kelembagaan desa menyelenggarakan pemerintahan dan melaksanakan pembangunan yang partisipatif
- Bersama masyarakat dan kelembagaan desa dalam mewujudkan Desa Wringinanom yang aman, tentram dan damai:
- Bersama masyarakat dan kelembagaan desa memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Cerita Rakyat
Wringinanom
Bahwa terjadinya Desa Wringinanom adalah sebagai berikut : Dahulu kala kira-kira usai perang Diponegoro tahun 1825-1830 ada perantau dari daerah Jawa Tengah, mengungsi sampai wilayah tenggara gunung lawu, para perantau tersebut ada yang belajar di pondok dan ada juga yang merantau ke wilayah pelosok.
Salah satu perantau tersebut bernama Ki Honggoduwo yang sangat kelihatan lelah sekali dan beristirahatlah dibawah salah satu pohon yang sangat rindang, pada saat istirahat tersebut Ki Honggoduwo menyaksikan beberapa keanehan antara lain ditempat tersebut banyak sekali pohon beringin dan anehnya semua daunnya muda (Enom), Ki Honggoduwo pun berujar dengan logat jawa (He Wargo Kabeh Mangertio, Suk Rejaning Jaman Papan iki tak wenehi tetenger Waringinanom) Warga semua perlu dimengerti besuk bila jaman sudah ramai tempat ini saya beri nama Wringinanom.
Perjalanan dilanjutkan keselatan, yang banyak ditumbuhi Pohon Gebang. Ki Honggoduwo Heran menyaksikan beberapa orang ditempat tersebut mengenam daun Gebang, akhirnya ditempat tersebut juga bersabda agar mudah diingat tempat ini besuk jaman ramai diberi nama Ngenam Gebang disingkat Nambang.
Perhjalanan dilanjutkan keselatan dan menyeberang Sungai, para pengikut Ki Honggoduwo Terlalu banyak tanya (Nambong menjadi Tambong) mengenai perjalanan tersebut dan merasa haus kebetulan minta air pun tidak diberi bahkan kelihatan sombong, Ki Honggoduwo pun Bersabda wahai semuanya warga utara sungai dengan warga selatan sungai Besanan kurang baik.
Berlanjut kearah timur dan melihat air yang kena sinar matahari kelihatan kilauan seakan akan hidup, maka Ki Hoggoduwo bersabda tempat sebelah timur tersebut dimnamakan air hidup (Banyuripan). Disalah satu tempat Ki Honggoduwo melihat keutara dan kearah awal perjalanan, dilihat dari kejauhan disebelah utara sawah itu seperti kraton atau kerajaan maka jadilah hingga sekarang paling utara tersebut dinamakan Krajan. Sejarahpun akhirnya menyimpulkan bahwa:
- Di awal istirahat yang banyak ditumbuhi pohon beringin dan semua yang berdaun muda hingga sekarang dinamakan desa wringinanom.
- Disalah satu tempat ditemui orang yang merajut atau mengenam gebang akhirnya hingga sekarang dinamakan dusun nambang.
- Ditempat lain banyak yang sering tanya ( Nambong, Tanya = Tambong) akhirnya hingga sekarang disebut dusun tambong.
- Kilauan aur disebelah timur yang terkena matahari airnya seakan akan hidup, akhirnya sampai sekarang dinamakan dusun banyuripan.
- Menerawang kearah utara dari kejauhan seakan seperti kraton/ kerajaan maka tempat paling utara tersebut dinamakan dusun krajan hingga sekarang
2.1.1 Perantau Lain
- Eyang Djainudin, mempunyai keturunan yang banyak sekali, hampir satu dusun krajan sampai ke dusun lain bahkan sampai ke Desa/Daerah lain.
- Eyang Nurkhani, juga demikian hampir se-dusun nambang adalah keturunannya.
- Eyang Iro Biri, Perantau ahli seni sekaligus pencipta seni gong gumbeng di Desa Wringinanom hingga sekarang.
2.1.2 Mitos Duk Sumur
Pada Jaman dulu disuatu hari banyak orang menuju kesuatu lokasi, dengan membawa sesaji dan banyak yang duduk diatas batu lebar, ada orang tua renta warga sekitar menyuruh memindah batu besar tempat duduk tersebut, benar saja setelah digeser ternyata apa yang dilihat, bahwa dibawah batu tersebut ternyata sebuah sumur, maka dengan sepakat tempat tersebut dinamakan Duk Sumur hingga sekarang.
Wringinanom